Karena bentar lagi natal, gw pingin ngebahas soal penggunaan istilah antara “Xmas” dengan “Christmas”..

Gw yakin bukan cuma gw aja yang dari dulu nanya apa sih bedanya istilah “Xmas” dengan “Christmas”? Meski di iklan2, drama2 TV, atau penyanyi rap berbaju kedodoran sering menulis “Christmas” sebagai “Xmas”, tapi tetep aja orang selalu mengartikan kedua istilah tersebut sebagai “Natal”

Namun begitu, dari berbagai sumber yg gw baca, ternyata perbedaan antara “Xmas” dengan “Christmas” jauh melampaui penyingkatan kata. Kalo dibilang “Xmas” dibuat supaya lebih gaul dan ringkas, salah banget. Beberapa agama sejak jaman Nabi malah udah tertulis “Xmas”. Bahkan beberapa kitab yang menceritakan soal umat Kristiani dan Jesus, menyebut “Christian” dengan “Xtian”. Maka salah banget kalo dibilang penggunaan huruf “X” pada “Xmas” dibuat pada masa modern, apalagi kalo disebut tujuan dari “X” itu buat ngilangin “Christ”-nya (atau bahkan disebut sebagai Anti-Christ!)

Image

Secara simbologis, huruf “X” dibaca “Cross” dalam bahasa Inggris. Ini merujuk pada penyalib-an Jesus Christ. Asal tau aja, “Christmas” sendiri berakar pada bahasa Inggris Kuno: “Cristes Maesse” yang berarti “Umat Christ”. Tapi kemudian tarik lagi akar kata “Christmas” ke bahasa Yunani Kuno: “Christoss” dan “Missa”.. Lah terus “X” dari “Xmas” mana?

Nah huruf “X” adalah huruf awal dari Bahasa Yunani, disebut “chi” dan di-pronounce sebagai “Kai”.. sesuai pronounce thdp Christ masa itu. Huruf “chi” dalam bahasa Yunani Kuno bentuknya bukan total “X”, tapi nyaris menyerupai salib namun agak miring. Dalam leksikon2 klasik, khususnya King James Bible, “Xmas” sendiri sudah jadi bagian dari penyebutan istilah. Maka salah kalo misal “Xmas” di-pronounce “Eks-mas”, tapi tetep “Christmas”.

Image

Tapi kemudian, dalam dunia yang kapitalistik dan penuh mitos2 yg nyari keuntungan, istilah “Xmas” digunakan u/ kepentingan2 komersial. Gak heran, semangat “Xmas” (Lebaran juga gitu) malah membuat orang2 jaman sekarang menjadikannya Life-Style, menggeser nilai2 budaya “Xmas” dari “Mendekatkan diri ke Tuhan” jadi “Tenggelam dalam Hutang”

Lah terus kenapa orang jaman Nabi pada make “X”? Inget ini: dulu teknik peng-copy-an buku itu pake tulis tangan. Tinta itu ditemukan di Cina, berarti kudu di-import, dan nulis itu di kulit Kambing, dan itu mahal. Maka orang2 jaman dulu terpaksa pake “X”.

Udeh segitu aje yg gw tau soal “Xmas” dengan “Christmas”.. anyway, gw Muslim tapi gw suka nilai2 dari Christmas! Happy Christmas and New Year, people!

Pernah baca novel yang judulnya “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal El Saadawi? Ha? Gak pernah? Payah ah! Hahahaha! Bercanda deh.. buat yang gak tau, coba cari dan baca novel tersebut, karena novel ini Feminis Gelombang ke-dua banget!

Image

Oke, gak mungkin kan gue ketik semua isi novel-nya di sini, keriting lah ini sepuluh jari, maka dari itu gue ketik garis besar novel ini yah:

Fokus utama novel ini adalah seorang gadis bernama Firdaus, dan adegan dibuka dengan si Firdaus ini lagi diwawancara oleh seorang jurnalis mengenai kenapa gadis ini dipenjara karena membunuh seorang pria. Adegan kemudian flashback ke masa kecil Firdaus. Firdaus ini nasibnya sial pake banget: sejak kecil diperkosa pamannya, dinikahin secara paksa (catatan à dijual!) oleh pamannya kepada seorang pria tua kaya raya namun rakus, diceraikan setelah dihajar oleh si suami, kabur dari rumah, lalu diangkat jadi pelacur, dikhianati cinta, dan saat salah satu pelanggannya ingin memakai Firdaus sementara ia sedang datang bulan, Firdaus muak lalu dihabisi lah si pelanggan. Adegan kemudian ditutup dengan Firdaus yang menunggu hukuman mati.

Terus terror maskulinisme terhadap perempuannya mana? Oke gue bakal bahas yah, terutama dari segi kalimat yang dilontarkan Firdaus.

—MAJOR SPOILER ALERT—

Kita bahas poin-poin penting dari kalimat Firdaus di novel ini yah

 Saat ditanya pertama kali alasan ia membunuh si pria, Firdaus menjawab:

“…semua lelaki yang saya kenal telah mengobarkan dalam diri saya hanya satu hasrat: untuk mengangkat tangan saya dan menghantamkannya ke muka mereka…”

“…tetapi karena saya perempuan, saya tak pernah punya keberanian untuk mengangkat tangan saya.”

Ini artinya apa? Kalimat ini berarti terror maskulinisme datang dalam bentuk sub-altern tubuh perempuan dan pengekangan oleh lelaki. Jauh di dasar diri perempuan, terdapat hasrat untuk memberontak dan menolak pengekangan-pengekangan sistem patriarki tersebut, akan tetapi hasrat tersebut tidak pernah (lebih tepatnya tidak diperbolehkan) ‘ada’ akibat dari sistem patriarki tersebut. Ini berarti adanya konstruksi yang dibentuk oleh lelaki bahwa wanita harus “tahu adat”.

 

“Jika salah satu anak perempuannya mati, Ayah akan menyantap makan malamnya, Ibu akan membasuh kakinya, dan kemudian dia akan pergi tidur. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul Ibu, kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur.”

Kalimat ini menunjukkan bahwa terror terhadap perempuan berada dalam tahap Simbolisme, khususnya dalam ranah domestic. Di sini, perempuan adalah beban atau objek bagi kuasa kaum lelaki.

 

Selain itu, saat Firdaus dijual ke Syekh Mahmoud, seorang pria tua kaya namun serakah, dengan tujuan mas kawin berupa dua ratus pon, ini menjadi penanda bahwa adanya komodifikasi perempuan. Tidak sampai di situ, setelah Firdaus dipukul oleh Syekh Mahmoud, dia kabur ke rumah Pamannya, tapi Pamannya bilang apa coba? Nih:

“Semua suami memukul istrinya. Suami yang paham agama itulah yang suka memukul istrinya. Aturan agama mengijinkan untuk melakukan hal itu. Seorang istri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya adalah kepatuhan yang sempurna.”

Selain menjadi penanda untuk pemerkosaan dalam pernikahan (dan kedunguan kaum lelaki), kalimat pamannya menjadi penanda pula bahwa maskulinisme menggunakan wacana agama untuk meneror kebebasan hak kaum perempuan.

 

Setelah lelah dipermainkan lelaki, akhirnya Firdaus balas dendam. Balas dendam dengan cara apa? Dengan cara menjadi pelacur. Ini kalimatnya:

“…karena banyak sekali lelaki dan saya ingin memilih dengan siapa saya ingin berkencan.”

“…Kunci pembuka teka-teki yang sudah saya ucapkan: ‘Berapa Kau mau bayar?’’

Ini menjadi penanda bahwa kebebasan tubuh Firdaus menjadi senjata maut dalam menindas lelaki, karena dengan pengakuan dirinya sebagai pelacur, Firdaus mempunyai Kekuasaan dengan siapa saja ia mau ‘bertransaksi’

 

Ketika sang Jurnalis mewawancarai mengapa ia menjadi pelacur dan mengapa ia membenci pernikahan, Firdaus berkata:

“…seorang karyawati lebih takut kehilangan pekerjaannya daripada seorang pelacur kehilangan nyawanya… kita semua adalah pelacur yang menjual diri dengan macam-macam harga”

“…lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan kemudian menghukum mereka karena telah tertipu… mengikat mereka dalam perkawinan dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka…”

“…yang paling sedikit diperdayakan dari semua perempuan adalah pelacur. Perkawinan adalah lembaga yang dibangun atas penderitaan yang paling kejam untuk wanita”

“…tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh istri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya orang yang cerdas, maka saya lebih menyukai menjadi pelacur bebas daripada menjadi istri yang diperbudak.”

Dari penuturan Firdaus ini, kita bisa melihat makna atau pesan tersembunyi bahwa maskulinisme, dalam melegalkan dan membuat seola-olah wajar tindakan terror terhadap perempuan baik fisik atau mental, menggunakan berbagai cara, namun yang paling umum adalah menggunakan perempuan. Pernikahan adalah terror simbolistik yang dipatuhi oleh perempuan, bahwa tubuh perempuan adalah budak paling murah untuk dikendalikan.

 

Dan saat diwawancara mengenai kasus pembunuhan yang dilakukan olehnya, Firdaus berkata:

“Saya adalah seorang pembunuh, tetapi saya tidak melakukan kejahatan. Seperti kalian, saya hanya membunuh penjahat.”

“Mereka menghukum saya sampai mati bukan karena saya telah membunuh seorang lelaki—beribu-ribu orang dibunuh tiap hari—tetapi karena mereka takut untuk membiarkan saya hidup… kebenaran saya itulah yang menakutkan mereka”

Dari kalimat ini, kita bisa lihat maknanya lho! Bahwa Keadilan, kebenaran, kejahatan dibentuk oleh laki-laki maskulinis sehingga terciptalah mitos. Dengan kebenaran yang dipegang, Firdaus keluar dari mitos tersebut, dan itulah yang menjadi ketakutan lelaki.

 

—KESIMPULAN—

Novel “Perempuan Di Titik Nol” oleh Nawal El Saadawi ini adalah bentuk suara perempuan di Timur Tengah mengenai terror yang dihadapi mereka, baik di ranah privat ataupun public. Asal tahu aja lho, novel ini dobrakan kelompok feminis terhadap kesemena-menaan kaum lelaki Timur Tengah yang meng-objek-an perempuan. Dan tahu gak sih~~ Nawal El Saadawi menjadi buronan di Timur Tengah karena novel ini, menjadi tanda lain betapa mitos-mitos maskulinisme begitu melekat erat di budaya daratan itu.

Jadi, ada yang mau baca novelnya? Bagus lho! WAJIB! *kibas-kibas buku “Perempuan Di Titik Nol*

Rasa-rasanya pasti banyak yang ingin memukul gue karena udah lama gak update blog… entah karena sibuk, atau karenan nganggur… oh, well, iya nganggur! Hahahaha! Untuk itu gue mohon maaf karena baru bisa posting lagi sekarang meski sebenernya masih nganggur dan sibuk nyari kerja.. *nahan tangis*

Anyway, bahasan kali ini gue mau ngebongkar kartun klasik yang judulnya The Smurf! Pembongkaran kartun ini didasarkan pada salah satu tugas anak Fikom yang usil gue baca di perpus Fikom (ya masa di perpus Kedokteraaaan?!)

Image

Tugas anak Fikom tersebut berisi sejarah The Smurf dan kenapa banyak orang yang doyan nonton, hingga kartun ini menjadi semacam media yang komunikatif. Hanya saja, seperti biasa, gue membongkarnya ke level ideologi. Jadi gue pingin teriak, “EH TAU GAK SIH LOOO?!” kalau ternyata kartun The Smurf ini jadi bagian soft power untuk memamerkan ideologi Komunisme? Oh asal tahu saja, gue membongkar ini jauh sebelum artikel Jefrey Goldstein dan Jamie King keluar, dan itu ketika gue duduk di semester 2 kuliah.

The Smurf, lahir 1958 oleh seorang kartunis Belgia, bercerita tentang sekelompok orang cebol berkulit biru yg hidup dalam satu desa. Tapi, seperti kebanyakan objek buatan manusia, selalu ada kepentingan dari pembuat kepada hasil karyanya.

Image

Kebetulan, pada tahun 1958 dan beberapa tahun sebelum itu, ideologi Komunisme dan Sosialisme lagi merebak. Isu-isu yang melibatkan komunitas pekerja, kelompok borjuis, dan penindasan-penindasan terhadap rakyat kecil merupakan isu sensitif di daratan Eropa. Gak heran, isu ini lantas disimulakrakan ke dalam kartun The Smurf!

Perlu diperhatikan nih: Komunisme berpandangan bahwa tiap orang harus memiliki perannya masing2, atau jobdesk-nya masing2, dan gak boleh ngelewatin batasan itu. Pemimpin mengatur, pekerja gak boleh keluar wewenang. Dalam Komunisme pula kesejahteraan dipegang oleh pemimpin lalu didistribusikan kepada rakyat secara merata.

Hubungannya sama The Smurf? Nah di desa The Smurf, semua orang punya peran pekerjaannya masing2. Tiap Smurf bekerja mengumpulkan makanan di satu gudang yang kemudian jatah makanan ini dibagikan secara rata ke seluruh rakyat The Smurf. Tentu saja, “Makanan” menjadi petanda untuk “Kesejahteraan”. Disinilah aroma awal ideologi Komunisme dalam The Smurf.

Image

Lanjuuuut! Tau gak negara2 Komunisme apa aja? Yep, Cina, Korea Utara, dan lain-lain. Kalau dilihat yah, jarang lho mereka berinteraksi dengan negara lain. Kenapa? Karena dalam paham ekonomi Komunisme, correct me if I’m wrong, perdagangan asing gak boleh masuk. Semua kegiatan ekonomi dikontrol oleh pemerintah. Nah di desa Smurf ini, merchant atau pedagang luar desa Smurf dilarang masuk ke desa. Plus, semua kegiatan desa dipimpin oleh Papa Smurf sebagai pemimpin atau kepala desa. Ini cerminan dari Communist Manifesto-nya Karl Marx, Warga Smurf gak punya kepemilikan pribadi. Semua diatur oleh Kekuasaan/Kepala Negara : Papa Smurf

Image

Kalo udah baca Das Capital karya Carl Marx, ada kalimat ini: Social men under red fathers! Coba liat deh bentukannya Papa Smurf: satu2nya Smurf yang berjenggot dan bertopi merah. Nah, lawan dari ideologi Komunisme itu tentu aja Kapitalisme yg mau menang sendiri. Ini digambarin oleh karakter antagonis Penyihir Gargamel. Gargamel itu digambarin haus emas, dan pingin ngerebus warga Smurf dan mentransmutasi mereka jadi batangan2 emas. Ini Kapitalisme banget kan?  Nah Gargamel ini berhidung besar, sebuah stereotip terhadap bangsa Yahudi yg dikonstruk sebagai pribadi rakus dan tamak.

Image

Pada akhirnya, The Smurf dan banyak kartun lain, ternyata menjadi media kepentingan politik yang disebarkan secara simbolis agar orang2 sepakat atau nurut. Ia jadi media soft power bagi mereka yang punya kekuasaan. Sama seperti Nazi Jerman yang ingin menyatukan dunia dalam satu ideologi, film kartun Smurf juga ternyata, melalui ideologi Komunisme.

Sekian pembongkaran kartun The Smurf…  Gak kok, gak usah dikasih ucapan terima kasih, cukup beri saja aku pekerjaan.. *kemudian diludahin*

Biru, bisa berlari dengan cepat, rambutnya jigrig kece, siapa itu? Bukan! Bukan The Flash ketumpahan cat sama pake hair wax! Itu Sonic The Hedgehog! Karakter kartun yang lahir dengan sehat sempurna (halah) dari video game buatan Sega.

Nah kalo Nintendo ngandelin Mario Bros., Sega memasang Sonic sebagai maskotnya. Ini sih gak heran, karena video game Sonic nampilin game side-scrolling dengan kecepatan yang luar biasa, game yg gak pernah muncul sebelumnya.

Tapi gw gak bakal ngebahas game Sonic, karena yg gw bahas adalah makna di balik game ini! *ketawa setan*

Percaya gak kalo gw bilang bahwa ternyata Sonic The Hedgehog ini bercerita soal perang Ideologi antara Amerika-Jepang melawan Uni Soviet (Rusia)? Oke, tilik dulu dari sejarah lahirnya Sonic. Inget tahun kelahiran Sonic? 1991! Ada apa di tahun itu? wuih! banyaaaak! Salah satunya adalah kerjasama Amerika-Jepang di berbagai bidang khususnya ekonomi dan teknologi.

Kedua, pada tahun 1991, terjadi Perang Teluk, dan saat itu Jepang tidak memberi bantuan Militer kepada Amerika, maka dari itu sekitar 30% penduduk Amerika turun kepercayaan pada Jepang. Belum lagi, Cold War atau Perang Dingin (lempar2an batu es.. eh bercanda deh) masih berlanjut yang berarti Amerika lagi gencar2nya nih lawan ideologi Komunisme-nya Uni Soviet.

Cold War! *lempar2an kulkas*

Belum muncul Sonic The Hedgehog? Okay! Sonic The Hedgehog dibuat untuk menunjukkan kerjasama Amerika-Jepang saat itu,  mengembalikan kepercayaan warga Amrik sono, dan nunjukkin ke Amrik bahwa Jepang tuh dukung Amrik ngelawan Uni Soviet,  dengan petanda2 tersembunyi tentu saja. Yuk bahas petanda2 ini!

Liat dulu karakter Sonic deh, dominasi warna-nya adalah Biru-Merah-Putih. Yep! Dari segi warna, ia melambangkan Amerika! Belum lagi warna mata Sonic yang ijo cerah, sebuah petanda yang nunjukkin bahwa Sonic adalah warga Barat.

Bang Sonic~~ Mau dong digendong kemana2! *ngok*

Ciri khas Sonic? Buat yang suka maen game-nya, pasti sepakat deh kalo si Sonic ini jalannya luar biasa cepat, mirip The Flash! Ngelambangin apa ini? Tentu aja ini melambangkan nilai2 dasar dari Amerika, sesuai dengan Deklarasi Kemerdekaan Amerika: Freedom alias Kebebasan! Kebebasan berlari dengan kecepatan tinggi inilah yang jadi petanda bagi Freedom-nya Amerika.

Selain itu, Sonic The Hedgehog kudu banget ngambil cincin2 emas sebagai “nyawanya”. Nah cincin2 ini ngelambangin nilai2 lain dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika: Kesejahteraan untuk Bersama! Kalo Sonic nyentuh musuh, Sonic bakal kehilangan cincin2 ini, yang berarti Kesejahteraan ini harus dijaga baik. Plus, di akhir tiap level, Sonic kudu ngambil cincin emas besar dengan bintang di tengahnya. Bener: ini perlambang bahwa Amerika adalah tempat dimana Kesejahteraan bisa ditemukan, atau tujuan akhir Amerika adalah Kesejahteraan.

Gak seru dong kalo game gak ada tokoh jahat? Sonic ini punya musuh bebuyutan bernama Dr. Eggman (atau Robotnik kalo dalam versi Amerika-nya).  Eggman ini bentuknya bulet, kumisnya lebat, jenius mesin, dan hobinya bikin robot2 aneh atau senjata2 super buat nyelakain Sonic.

Nope! I never wanna date him!

Dr Eggman ini perlambang Rusia! Dari mananye? Dari warna dominan-nya: Merah-putih-kuning (dan tambahan hitam), dan Kumis lebat-nya. Orang Amrik sono selalu meng-stereotype-kan orang Rusia sebagai orang gendut dengan kumis lebat. Inget kan tadi gw bilang kalo saat itu masih Perang Dingin? Nah, Dr. Eggman ini doyaaaan banget bikin mesin, sebuah petanda unik dari Perang Dingin yaitu perang teknologi militer, dimana Uni Soviet gencar banget bikin senjata2 berteknologi tinggi buat nyaingin Amerika. Dan Dr. Eggman yang selalu pingin nyelakain Sonic ini jadi perlambang bahwa Uni Soviet pingin ngancurin nilai2 Kebebasan dan Kesejahteraan Bersama milik Amerika.

Segitulah analisis semiotika sangat sederhana dari Sonic The Hedgehog. Gak ada yang nyangka kan bahwa video game Sonic ternyata merupakan catatan sejarah penting yang pernah terjadi di dunia? Jangan terlalu dipikirin, nikmati aja game-nya!

P.S. Gw pernah kultwitin ini di twitter.. follow aja @rebornsin kalo pingin nanya2 *modus menambah jumlah follower*

Kalo ditanya, “Siapa Bapak semiotika?”, tak ayal banyak yang bakal jawab, “Ferdinand De Saussure atau Roland Barthes”. Tapi oh tapi, asal tahu aja, jauuuuh sebelum Saussure atau Barthes menerapkan semiotika, masyarkat Jawa kuno ternyata sudah mempraktikan metode ini lho!

Secara harfiah, Othak-Athik sendiri berarti “otak-atik” dan “Gathuk” itu “Mencocokkan”, kasarnya mengotak-atikan sesuatu biar pas, mirip dengan penerapan semiotika Barthes pada budaya pop jaman sekarang. Konon, Keraton Jawa maju pesat berkat Othak-Athik Gathuk ini, yang dipegang oleh kelompok Punakawan: Semar, Gareng, Bagong, dan Petruk.

Punakawan

Kesamaan Semiotika dengan Othak-Athik Gathuk ini adalah bahwa mereka menelaah simbol dan pesan yang ada pada hasil karya manusia. Hal yang umum diketahui orang bahwa masyarakat Jawa memang penuh simbol dan multi-makna: setiap kata, ritual, penanggalan, dan lain2 selalu bersimbol.

Yang membuat Keraton Jawa maju pesat tentu saja penggunaan Othak-Athik Gathuk pada ramalan-ramalan Jawa kuno, dan itu ditulis ratusan tahun silam. Misal saja ada ramalan jawa: Pemimpin di Tanah ini ada Joko Lelono, keturunan Ningrat, dan Pemimpin sesudahnya menurunkan derajat negeri. Ramalan tersebut di-Othak-Athik-Gathuk-an: Joko Lelono (Suka Bepergian) Keturunan Ningrat.. ternyata Gus Dur.

Ada lagi ramalan Jawa: Indramayu akan makmur kalau ada ular menyebrangi sungai Cimanuk. Jika di-Othak-Athik Gathuk-an maka terbaca bahwa ternyata Indramayu bikin kilang minyak pertamina dengan pipa bawah tanah yang banyak, dan Indramayu jadi lebih “hidup”.

Gak cuma ramalan, Ritual dan hari pun bisa di-othak-athik gathuk-an lho. Misal hari “Seloso” (Selasa), di-otak-atik jadi Sela-selane Mongso (Longgar atau Sepi di Tengah2), maka muncul tradisi untuk tidak memulai sesuatu saat hari Selasa, konon bisa bawa sial. Ada lagi ritual tebar bunga, koin, dan segenggam beras pas pemakaman jenazah. Ritual tebar bunga di pemakaman perlambang agar mereka yg hidup hanya mengingat hal-hal yang wangi atau baik saja dari jenazah, sementara Ritual tebar koin dan beras berarti bahwa si jenazah hanya membawa kebajikan saja ke Alam Sana, tanpa perlu bawa harta.

Orang Jawa juga punya tradisi untuk tidak mengadakan pernikahan di bulan Suro (Bulan Muharram), kenapa? Karena “Suro” itu di-Othak-Athik-an menjadi “Surau”, tempat orang beribadah.. Maka Bulan Suro (Muharram) itu difokuskan untuk beribadah, bukan menikah.

Keruntuhan Majapahit pun disebutkan dalam ramalan Jawa yang di-Othak-Athik-Gathuk-an. Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1400, maka 1 = bumi (1 disimbolkan benda-benda tunggal), 4 = kerta, 0 = sirna, 0 = ilang (0 simbol dari sesuatu yang gak ada). Maka 1400 dibaca sirna ilang kertaning Bumi (hilang ditelen Bumi), Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun itu.

Ternyata Othak-Athik Gathuk tentang siapa aja Presiden RI udah tertulis jaman dulu pula lho. Urutannya seperti ini:

1. charming (Soekarno)

2. banyak harta, (Soeharto)

3. pinter tapi gak pada tempatnya (Habibie)

4. Joko Lelono/Suka berkelana (Gus Dur)

5. (lupa.. hehehe, Megawati lah pokoknya)

6. paling lemah (SBY)

7. Satriya Piningit

Era si “paling lemah” ini, puncaknya Indonesia goro-goro (gara-gara/ kekacauan) yang kacau, hancur-hancuran! (ya semoga gak kejadian), namun begitu pemimpin ke-7, si Satriya Piningit, dikabarkan sebagai era kebangkitan Indonesia!

Jadi memang bahwa Othak-Athik Gathuk ini hadir jauh sebelum semiotika dipraktekan oleh kelompok Barat. Keren kan, Indonesia?

 

 

If Your Vagina/Penis Could Talk

Posted: January 24, 2012 in Uncategorized

Postingan gw kali ini gak ada hubungannya sama semiotika atau simbol2 yg tersembunyi. Kali ini gw mau ngebahas bagian tubuh kita yang dianggap tabu untuk dibicarakan di tempat umum: kelamin.

Apa yang terlintas di pikiran kalian ketika membaca judul postingan ini? Lucu? Porno? Absurd? Bisa jadi! Nah sekarang tau gak kenapa kelamin selalu disebut “kemaluan”? Apakah karena memalukan? Bukankah ia bagian dari tubuh kita2 juga layaknya tangan, kaki, mulut, dan lain-lain?

Karena dianggap sebagai sesuatu yang “memalukan” lah kelamin sering kali tidak tereksplor dan karenanya banyak dari kita yang bahkan tidak tahu konstruksi dan bagian-bagian dari kelamin kita sendiri. “Jorok”, “jijik”, “dosa”, “malu-maluin”, dan sederet label negatif sudah dialamatkan ke kelamin kita seolah2 dia sudah bertindak kriminal.

Postingan gw ini sebenernya terinspirasi dari bukunya Eve Ensler yang berjudul “Vagina Monologue” dimana ia melakukan survey kepada sekelompok wanita mengenai sampai seberapa jauhkah wanita-wanita ini mengenal Vagina mereka. Banyak lho ternyata dari wanita-wanita ini yg gak tau dimana letak klitoris mereka sampai mereka mengeksplor dengan bebas vagina mereka tanpa dilabeli “tabu”

The Vagina Monologue, oleh Eve Ensler

Gw pun akhirnya memutuskan untuk membuat survey yang sama melalui Twitter, dengan pertanyaan yang cukup sederhana: “Jika Vagina/Penis kalian bisa bicara, apa yang akan mereka katakan?”

Jangan dianggap porno dulu survey gw ini, karena tujuan gw melakukan survey ini adalah agar kita semua mengenal lebih baik kelamin kita dan menjaga serta memperlakukannya dengan hormat.

Banyak respon yang berdatangan berkat survey itu dan gw berterimakasih karenanya. Ini beberapa jawaban yg gw tulis di postingan ini:

Konstruksi Vagina

— If your vagina could talk:

@Nn_Kartika: jangan males dilap ya kalo abis buang air, jangan terlalu rajin pake douche juga, gak baik buat PH-ku

@naztaaa: thank you karena rajin cukur gue

@soft_iee: kasih gw ke org yg tepat

@Putriiliciouss: kapan nih? Udah ga tahan gilak!

@praharanielok: Jangan pakai aku sembarangan ya

@astrindaa: make sure waxing is on your top routine list.

@liskaonapril: treat me well so I’ll give you my best satisfaction

@putyfauzya: am sick of this,, get the real one,bitch…!!!

 

Konstruksi Penis

— If your penis could talk:

@ucilidiot: Aku muak dengan sabun, lotion, dan baby oil

@honji_7: woi, di dalem apek, sumpek dan panas. Jangan keseringan masuk ke sana sih

@fransMB: I need you tonight !!

@ndroow: Akuh kesepiaaaaaaaaan…

@fnicco: I wanna have a friend

@edutria: Nyet, lu ga bosen tiap hari ketemu ‘pentungan’. Yang beda dong!

@diedotspalisuri: nganggurin aje gue terus! gue sudah lama ngak diangetin

@weky: gw gak perlu fitness lagi, udah gede & berurat gini

@amjadrikzan: Stop abusing me

@jivatrosidi: time out pleaaase!

@jealougity: thank you for keeping me clean and free while at home!!!

@rizalandri: gue bosen ama yang itu-itu aja

@arrizona_: Gunakan aku sesuai dgn ketentuan dan syarat yg brlaku

@anehsaja: Aku capee tuan..

@fickryahmad: lu tiap hari buang calon presiden mulu

@yopiebintoro: stop guna kan lotion. Panas tau !!!

@roodiirudy: Bosen ah sama tangan kamu

 

Nah dari semua jawaban yang masuk, ternyata bisa lho diambil benang merah-nya. Kebanyakan wanita mengenal Vagina mereka melalui perawatan diri. Wanita cenderung memperlakukan Vagina sebagai bagian dari tubuh secara keseluruhan, bagaimana Vagina diperlakukan untuk diri sendiri dan rasa syukur karena perlakuan-perlakuan terhadap kelamin itu: “jangan lupa waxing”, “jangan lupa dirawat”, “hanya untuk orang yang tepat”… lebih cendderung ke diri bukan?

Sementara pria kebanyakan memfokuskan Penis untuk sebuah rekreasi seksual, sekaligus pendobrakan 4 batasan dari Penis itu sendiri (Shape, Size, Endurance, dan Power). Bagaimana Penis ini difokuskan kepada orang lain ketimbang diri sendiri: “Bosen sama tangan”, “I wanna have a friend”, “Aku kesepian”… lebih cenderung mencari pasangan.

Jadi sudahkah kita mengenal kelamin kita lebih baik?

 

Suka jalan2 ke Bandung? Wow! Siapa sih yg gak suka? Cuaca adem, orang2 ramah, cewe2 geulis dan cowo2 kasep, pemandangan2 bagus.. semua bisa ditemuin di Bandung!

Buat yg suka jalan ke Bandung, apalagi anak2 Jatinangor kayak gw, pasti gak bakal gak ngelewatin jalan2 di daerah Dago. Nah coba sempetin dulu ke daerah sekitar jembatan layang, dan pantengin monumen keren berbentuk huruf2 yg tersusun jadi kata D.A.G.O.

daaan sama seperti hasil-hasil kebudayaan lainnya, monument D.A.G.O. ini ternyata punya makna dan pesan tersembunyi di baliknya lho. Kita bahas dulu bentuk monument D.A.G.O. ini yah: monumen berbentuk huruf2 ini tersusun dari Huruf D, A, G, dan O. Semua huruf dicat jadi berwarna merah terang. Ukiran2 cetak-timbul menghiasi tiap huruf, dan tiap ukiran berbeda2. Posisi2 huruf2 ini juga dibuat sedemikian rupa: Huruf D dan A diletakkan dalam satu partisi, terpisah (oleh jalan) dengan huruf G dan O yg diletakkan di partisi berseberangan. Huruf D dan O berada paling depan dan sejajar, disusul huruf A dan huruf G diletakkan paling belakang. Nah keterkaitan antara bentuk ukiran dengan posisi inilah yg menentukan makna yg terbaca dari monument D.A.G.O.

Garis besarnya seperti ini:

D –> ukirannya berbentuk sendok dan garpu, diletakkan satu partisi dengan huruf A, dan paling depan sejajar dengan O

A –> ukirannya berbentuk bunga, diletakkan satu partisi dengan huruf D, dan berada terdepan kedua setelah huruf D dan O

G –> ukirannya berbentuk wayang, diletakkan satu partisi dengan huruf O, dan berada paling belakang

O –> ukirannya berbentuk kotak2, diletakkan satu partisi dengan huruf G, dan paling depan sejajar dengan D

monumen Dago.. Lebih jelas?

Mari buka pelan2 maknanya. Dimulai dari partisi D dan A. Apa yang terbaca dari ukiran “sendok dan garpu”? Makan? Benar, tapi kurang tepat. Sendok dan garpu menjadi representasi kegiatan “konsumsi”, atau menghabiskan nilai guna suatu barang. Sementara ukiran “bunga” bukan cuma representasi alam, tapi “keindahan” atau “estetika”.

Maka mitos yang terbaca dari partisi huruf D dan A adalah: “Keindahan bisa didapat dari kegiatan konsumsi”

Lanjut ke partisi G dan O. Ukiran berbentuk “wayang” di huruf G merepresentasikan “budaya”, sementara ukiran berbentuk “kotak2” pada huruf O, secara umum, merepresentasikan “futuristik” atau “modernitas”. Inget posisi huruf G dan O: G berada di belakang O.

Maka mitos yg terbaca dari partisi ini adalah: “Budaya yang paling depan adalah budaya modernitas atau futuristik”.

Selesai? belum! Tadi kan gw udah bahas mitos2 per-partisi. Nah mari kit abaca mitos semua huruf secara keseluruhan. Inget tadi kan: D (konsumsi) dan O (modernitas) berada paling depan, disusul A (estetika/keindahan), dan kemudian G (budaya) paling belakang.

Nah mitos yg terbaca secara keseluruhan adalah: “Untuk mencapai kebudayaan yang estetis dan modern, dibutuhkan kegiatan konsumsi”.. Maka ideologi yang terdapat dalam monumen tersebut adalah Konsumerisme.

Makna dibalik monumen ini memang ternyata simulakra dari “city brand” (citra kota) Bandung sebagai Paris Van Java, bukan? Ini juga ditujukan untuk para turis2 untuk melakukan kegiatan konsumsi di Bandung, khususnya Dago. Lagipula salah satu aset yg membangun Bandung juga dari wisata belanja, bukan? hehehe

Sekian deh pembacaan makna dari monument D.A.G.O., kalo ada yg mau ditanyakan, silahkan lewat twitter gw: @rebornsin

P.S. Jangan cuma nanya dong, ajak jalan kek terus traktir.. hahahaha